TEORY INTIMACY VS ISOLATION
Contoh Kasus :
Seorang anak mengalami trauma karena kekerasan yang dilakukan orang tuanya sendiri. Anak itu selalu mendengar suara ayahnya yang selalu berteriak keras memarahi ibunya, selalu melihat di depan matanya langsung ketika orang tuanya sedang bertengkar, selalu mendengar kata-kata kotor yang keluar dari mulut ayahnya. Teriakan-teriakan itu membuat dia mengalami kerusakan mental dan trauma yang semakin parah setelah orang tuanya bercerai.
Suatu hari dia melawan ayahnya demi membela ibunya yang selalu dikasari. Anak itu menangis dan merasa ini bukan hal wajar yang dapat dilakukan karena dia pikir perbuatan tersebut termasuk melawan orang tuanya, tetapi dia harus segera mengeluarkan pendapat yang selama ini dia tahan demi kebaikan ibunya. Sayangnya kenyataan pahit menampar si anak, ayahnya tetap tidak bisa menerima pendapatnya. Ayahnya tetap bersikeras memarahinya dan bahkan menyalahkan ibunya dengan alasan tidak bisa mendidik anak dengan baik karena sudah melawan dengan orang tua.
Dia takut mengenal seseorang yang akan berperilaku sama seperti ayahnya sampai ketakutan itu berubah menjadi sebuah trauma. Dia selalu memikirkan hal yang membuat rasa traumanya semakin besar. Dia berpikir bagaimana jika suatu saat nanti ada seseorang yang ingin mengenalnya tetapi tidak bisa menerima keadaan keluarganya dan masa lalunya. Hal itu berdampak besar padanya sehingga membuat dia menjadi seseorang yang introvert dan sulit untuk bersosialisasi karena selalu mengurung diri. Alasan dibalik itu karena dia merasa malu dengan keadaan keluarganya dan takut dipandang tidak baik oleh orang lain.
Namun, disamping itu semua dia tidak pernah memiliki dendam kepada ayahnya. Dia selalu mendoakan yang terbaik untuk kedua orang tuanya dengan harapan bisa kembali seperti semula. Dia selalu sayang kepada mereka setelah semua yang menimpa keluarganya.
Teori :
Erik Homburger Erikson, seorang psychoanalyst yang mengembangkan teori psychosocial development. Dalam teori ini Erikson membagi manusia kedalam 8 stages / 8 tingkatan mulai dari saat mereka masih bayi sampai di usia dimana mereka sudah tidak produktif lagi.Dari delapan tingkatan yang ada, kami akan membahas tingkat ke-6 yaitu tahap Intimacy vs Isolation. Tahap ini adalah tahap dimana orang - orang membutuhkan hubungan yang lebih dekat dengan orang - orang yang dianggap bisa memberikan kenyamanan dan kebahagiaan untuk mereka. Tapi akan berbeda apabila seseorang mengalami kondisi broken home.
Tanpa disadari, mendengar pertengkaran orangtua setiap hari dapat melukai hati anak. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, anak akan memuculkan berbagai reaksi sebagai bentuk ungkapan isi hati dan pikirannya. Hal ini tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga memengaruhi hubungan anak dengan orang-orang di sekitarnya.
Balita dan anak-anak yang masih sangat kecil mungkin tidak akan mengalami efek perkembangan yang terlalu negatif. Namun, anak-anak yang orangtuanya bercerai saat mereka sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja mungkin mengalami beberapa masalah dalam fungsi sosial, emosional, dan pendidikan mereka.
Beberapa masalah yang sering dialami oleh anak broken home adalah:
1. Masalah emosional
Perceraian orangtua tentu menyisakan luka yang mendalam pada anak. Apalagi jika anak sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja. Emosinya yang masih labil dan meluap-luap membuat anak-anak broken home cenderung sulit untuk mengontrol emosi mereka sendiri. Anak broken home usia sekolah dan remaja mungkin akan secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka dengan cara berbuat anarkis, seperti sering berteriak-teriak, berbuat kasar, dan lain sebagainya.
Tak hanya itu saja, anak-anak juga lebih rentan mengalami stres dan depresi, yang merupakan keadaan emosional jangka panjang.
Di sisi lain, beberapa anak yang sudah beranjak dewasa mungkin menunjukkan reaksi emosional yang jauh lebih sedikit ketika menghadapi perpisahan orangtua mereka. Meski di luar mereka tampak baik-baik saja, namun banyak anak usia dewasa sebenarnya memendam perasaan negatif di dalam dirinya. Penekanan emosional ini justru dapat membuat orangtua, guru, dan terapis kesulitan untuk membantu anak memproses perasaannya dengan cara yang tepat.
Sebuah studi menunjukkan bahwa kasus bunuh diri yang dilakukan oleh anak broken home jauh lebih tinggi ketimbang anak yang berasal dari keluarga yang harmonis. Meski begitu, sampai saat ini para peneliti belum menemukan korelasi yang tepat antara perceraian dan bunuh diri seorang anak. Para peneliti menduga bawah tampaknya hal tersebut bisa dipicu oleh bentuk penolakan anak terhadap sikap yang diambil orangtua.
2. Masalah pendidikan
Masalah lain yang mungkin dialami anak yang broken home adalah menurunnya prestasi akademik di sekolah. Sebenarnya hal ini tidak mengagetkan. Jika ditelisik lagi, masalah stres secara emosional saja sudah dapat menghambat kemajuan akademis anak di sekolah, apalagi perubahan gaya hidup dan suasana keluarga yang tidak harmonis. Hal ini pada akhirnya dapat berkontribusi pada hasil pendidikan anak yang buruk.
Berbagai masalah akademik ini dapat berasal dari sejumlah faktor, termasuk lingkungan rumah yang tidak kondusif, sumber daya keuangan yang tidak memadai, dan rutinitas yang tidak konsisten. Alhasil, anak jadi malas belajar, sering bolos, atau membuat keributan di sekolah.
3. Masalah sosial
Perceraian juga dapat memengaruhi hubungan sosial anak dengan lingkungan sekitarnya, Akibat perceraian, beberapa anak mungkin akan melepaskan rasa kegelisahan mereka dengan bertindak agresif dan terlibat dalam perilaku bullying (penindasan). Keduanya sama-sama tindakan negatif. Jika dibiarkan terus-terusan, kondisi tersebut dapat memengaruhi hubungan anak dengan teman sebayanya.
Masalah lainnya yang juga sering dialami anak broken home adalah munculnya rasa cemas berlebih. Kecemasan ini dapat membuat mereka sulit untuk melakukan interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan pengembangan diri yang bermanfaat, seperti olahraga.
Anak broken home mungkin juga akan memunculkan sikap sinis dan rasa tidak percaya terhadap sebuah hubungan, baik terhadap orangtua dan pasangan potensial mereka.
4. Masalah dinamika keluarga
Pada beberapa keluarga yang bercerai, anak sulung sering kali akan mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya. Entah karena kesibukan orangtua untuk bekerja atau karena orangtua memang tidak bisa selalu hadir di sisi mereka seperti sebelum terjadinya perceraian.
Dalam banyak kasus, anak broken home di rentang usia 18 hingga 22 tahun kemungkinan dua kali lebih besar untuk memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua mereka. Kebanyakan dari mereka akan menampilkan tekanan emosional yang tinggi dan masalah perilaku. Tak jarang, banyak dari mereka yang sampai membutuhkan bantuan psikologis untuk membantu mengontrol emosisinya sendiri.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Child Psychology Divorce juga menemukan bahwa anak broken home kurang patuh pada orangtua mereka yang bercerai.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Sociological Association menemukan bahwa efek perceraian tidak hanya dapat dirasakan saat itu saja, tapi juga bisa bertahan lama dalam jangka waktu yang panjang, sekitar 12-22 tahun setelah perpisahan.
Beberapa cara mengatasi agar anak-anak yang mengalami broken home tidak sampai merasakan efek negatif dari kondisi keluarganya:
1. Jangan Memperlihatkan Permasalahan Di Depan Anak
Hal ini berlaku bagi orang tua, meskipun kondisi keluarga sedang ditimpa banyak permasalahan. Akan lebih baik untuk tidak menunjukkannya pada anak-anak. Orang tua, terutama ibu harus dapat menahan dan mengontrol emosi serta lebih peka pada perasaan anak. Peran ibu dalam keluarga adalah untuk memberikan rasa nyaman dan anak serta merangkul anak agar bisa merasakan senang dan bahagia tanpa harus masuk ke dalam permasalahan yang sedang dihadapi orang tuanya.
2. Ajaklah Untuk Berpikiran Positif Dalam Segala Kondisi
Mencoba mengajak anak untuk selalu berpikir positif dalam segala kondisi yang dihadapinya. Memang tidak mudah untuk selalu berpikiran positif meskipun dalam kondisi yang seakan membuat kita menyerah. Namun jika membiarkan anak terus termenung sedih dan selalu berpikir negatif bukanlah solusi yang tepat. Ajarkan anak dengan pelan untuk mulai bisa menerima kenyataan dan mencoba berpikiran positif.
3. Jangan Biarkan Anak Menyesali Diri
Jangan sampai membiarkan anak menyalahkan diri ataupun menyesali dirinya sendiri. Kondisi ini nantinya menyebabkan anak dapat melakukan hal-hal negatif yang mana seahrusnya tidak boleh dilakukan, hal ini pula lah yang menjadi faktor penyebab kenakalan anak di lingkungan masyarakat.
4. Mencoba Hal-Hal Baru
Ajaklah anak untuk mencoba hal-hal yang baru, selama itu dapat bersifat positif dan membentuk karakter anak yang positif maka hal-hal tersebut bisa dilakukan. Misalnya saja mencoba hobi baru, ke tempat-tempat baru yang mengasyikkan, dan lainnya yang membuat pikiran menjadi lebih fresh serta pikiran-pikiran buruk dapat terlupakan sejenak
5. Jadilah Tempat Berbagi Untuk Anak
Masalah yang terjadi pada anda dan pasangan, janganlah sampai mempengaruhi peran anda sebagai orang tua. Jangan membiarkan anak merasakan beban tersebut sendirian. Cobalah untuk selalu menjaid tempat berbagi untuk anak, sehingga segala keluh kesah yang anak rasakan dapat tersalurkan dengan baik dan tidak menyebabkan anak mencari perhatian di tempat lainnya.
6. Butuh Treatment Khusus
Dibutuhkan treatment khusus untuk mengatasi anak-anak yang merupakan korban dari perceraian maupun broken home. Ada banyak perubahan sifat anak broken home yang mungkin tidak diketahui oleh setiap orang tua. Sehingga nantinya menyebabkan kenakalan remaja atau bahkan menyebabkan gangguan jiwa pada anak karena merasa tidak siap dengan kondisi yang ada. Banyak sekali kasus-kasus anak yang mengalami broken home mengalami trauma yang terkadang sulit untuk disembuhkan hingga dewasa. Untuk itulah dibutuhkan tindakan atau treatment khsuus yang dilakukan oleh terapis sehingga kondisi broken home nantinya tidak akan sampai mempengaruhi psikologi anak.
7. Tetap Menjaga Keintiman Keluarga
Meskipun orang tua telah bercerai, namun jangan sampai kondisi ini mengubah kehidupan anak. Anak tetap membutuhkan peran dari kedua orang tua, dan itu lah yang harus dipikirkan setiap orang tua yang mengalami perceraian. Singkirkan perasaan egois dari masing-masing pihak, dan belajarlah dewasa untuk anak. Meskipun kondisi keluarga sudha bercerai, namun sebisa mungkin tetap jaga keintiman keluarga. Sehingga anak tetap merasakan perhatian dan kehangatan dari kedua orang tuanya meskipun kondisinya sudah bercerai sekalipun.
Kondisi broken home memang memberikan dampak psikologis anak broken home yang mungkin belum semua orang tua menyadarinya. Sehingga kembali lagi kepada pihak orang tua untuk mencari solusi atas segala permasalahan yang terjadi pada keluarga. Solusi apapun yang didapatkan, agar jangan sampai berpengaruh negatif pada anak. Bagaimanapun anak tetap membutuhkan peran kedua orang tuanya yang tidak mungkin dapat digantikan oleh siapapun. Semoga informasi diatas dapat bermanfaat untuk anda.
KELOMPOK 3 :
10520088 Alyssa Celino Tobing
10520529 Kayla Arundati Wibowo
10520780 Pinka Aulia
10520901 Rizky Hakim
10520956 Sathya Winayanti
11520020 Syaharani Azzahra
11520097 Winda Berliana Pasaribu
Komentar